Artikel

Jenis Mata Uang Kripto yang Perlu Anda Ketahui

Kenali berbagai jenis mata uang kripto, mulai dari payment coin hingga utility token dan stablecoin, beserta contoh dan fungsinya masing-masing.

Ditulis oleh Mentari Rahman

- 17 Mar 2026

Kami mematuhi

4 menit membaca | Kripto

Mata uang kripto bukan cuma Bitcoin. Saat ini ada ribuan macam-macam crypto yang beredar di pasar, masing-masing dengan fungsi dan tujuan berbeda.

Sebagian dirancang sebagai alat pembayaran digital, sebagian lagi untuk menjalankan aplikasi terdesentralisasi, dan ada juga yang nilainya dipatok stabil terhadap mata uang fiat. Contoh uang kripto yang paling dikenal antara lain Bitcoin, Ethereum, dan Tether.

Kalau Anda baru mulai mengenal dunia kripto, memahami jenis-jenis cryptocurrency ini penting sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Artikel ini akan membahas kategori utama crypto beserta contoh dan cara kerjanya.

Apa Itu Mata Uang Kripto?

Mata uang kripto (cryptocurrency) adalah aset digital yang menggunakan teknologi kriptografi untuk mengamankan transaksi. Berbeda dengan uang konvensional yang dikelola bank sentral, kripto berjalan di jaringan blockchain yang terdesentralisasi.

Artinya, tidak ada satu pihak pun yang mengontrol peredarannya. Semua transaksi tercatat secara transparan di blockchain dan bisa diverifikasi oleh siapa saja.

Di Indonesia, kripto diakui sebagai komoditas yang bisa diperdagangkan. Sejak Januari 2025, pengawasan aset kripto resmi beralih dari Bappebti ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Artinya, regulasi kripto kini lebih terintegrasi dengan pengawasan sektor keuangan secara keseluruhan.

Perlu dicatat: kripto belum diizinkan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Anda boleh memperjualbelikan kripto sebagai aset investasi, tapi tidak bisa menggunakannya untuk membayar barang atau jasa.

Perbedaan Koin dan Token

Sebelum membahas jenis-jenis crypto, penting untuk memahami perbedaan dasar antara koin dan token.

Koin (Coin) adalah kripto yang memiliki blockchain sendiri. Bitcoin berjalan di blockchain Bitcoin, Ethereum di blockchain Ethereum, dan Solana di blockchain Solana. Koin biasanya berfungsi sebagai alat transaksi atau penyimpan nilai di ekosistemnya.

Token adalah kripto yang dibangun di atas blockchain milik koin lain. Misalnya, Uniswap (UNI) dan Shiba Inu (SHIB) sama-sama berjalan di atas blockchain Ethereum. Token tidak punya jaringan sendiri, tapi bisa memiliki berbagai fungsi sesuai proyek yang membuatnya.

Analogi sederhananya: koin itu seperti pemilik rumah, sedangkan token itu penyewa yang tinggal di rumah orang lain.

1. Payment Coin (Koin Pembayaran)

Payment coin adalah jenis mata uang kripto yang dirancang sebagai alat pembayaran digital. Tujuan utamanya menggantikan peran uang tunai dalam transaksi online.

Contoh utama:

  • Bitcoin (BTC) - Kripto pertama dan paling terkenal di dunia. Diciptakan pada 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Bitcoin sering disebut "emas digital" karena jumlahnya terbatas (maksimal 21 juta keping). Beberapa negara seperti El Salvador sudah mengakuinya sebagai alat pembayaran resmi.
  • Litecoin (LTC) - Dibuat sebagai versi "lebih ringan" dari Bitcoin dengan waktu konfirmasi transaksi lebih cepat (2,5 menit vs 10 menit untuk Bitcoin).
  • Bitcoin Cash (BCH) - Hasil fork dari Bitcoin yang dirancang untuk transaksi lebih cepat dan biaya lebih rendah.

Payment coin cocok untuk Anda yang ingin menggunakan kripto sebagai penyimpan nilai jangka panjang atau alat transfer uang.

2. Platform Coin (Koin Platform)

Platform coin bukan sekadar alat pembayaran. Koin ini menjadi bahan bakar untuk menjalankan aplikasi terdesentralisasi (dApps), smart contract, dan ekosistem blockchain yang lebih luas.

Contoh utama:

  • Ethereum (ETH) - Platform smart contract terbesar di dunia. Ribuan aplikasi DeFi, NFT, dan token dibangun di atas Ethereum. Sejak beralih ke Proof of Stake pada 2022, Ethereum jadi lebih hemat energi.
  • Solana (SOL) - Dikenal karena kecepatan transaksi yang sangat tinggi (hingga 65.000 transaksi per detik) dengan biaya rendah. Populer untuk aplikasi DeFi dan NFT.
  • Cardano (ADA) - Blockchain yang dikembangkan dengan pendekatan riset ilmiah. Fokus pada keamanan dan skalabilitas.
  • Polkadot (DOT) - Dirancang untuk menghubungkan berbagai blockchain agar bisa saling berkomunikasi.

Platform coin cenderung memiliki fundamental kuat karena nilainya terkait langsung dengan ekosistem yang dibangun di atasnya.

Tertarik mulai investasi di kripto?

Banyak investor rugi karena biaya transaksi tersembunyi. Kami bantu bandingkan crypto exchange terbaik supaya mendapatkan keuntungan maksimal.

Bandingkan crypto exchange terbaik untuk Anda
About hero image

3. Stablecoin (Koin Stabil)

Stablecoin adalah jenis crypto yang nilainya dipatok terhadap aset stabil, biasanya dolar AS. Satu USDT, misalnya, selalu bernilai sekitar 1 dolar AS.

Ada empat jenis stablecoin:

  • Berbasis fiat - Didukung cadangan mata uang nyata. Contoh: Tether (USDT) dan USD Coin (USDC).
  • Berbasis komoditas - Didukung aset fisik seperti emas. Contoh: PAX Gold (PAXG).
  • Berbasis crypto - Dijaminkan dengan aset kripto lain. Contoh: DAI yang dijamin oleh ETH dengan rasio 150%.
  • Algoritma - Menjaga stabilitas lewat mekanisme supply otomatis. Jenis ini paling berisiko karena tidak ada jaminan aset nyata.

Stablecoin berguna untuk menyimpan nilai tanpa keluar dari ekosistem kripto, terutama saat pasar sedang volatil. Di Indonesia, ada juga Rupiah Token (IDRT) yang dipatok terhadap rupiah.

4. Utility Token

Utility token memberikan akses ke fitur atau layanan tertentu dalam sebuah platform blockchain. Nilainya tergantung pada seberapa berguna platform tersebut.

Contoh utama:

  • Binance Coin (BNB) - Token dari exchange Binance. Pemilik BNB mendapat diskon biaya trading dan akses ke fitur eksklusif seperti Binance Launchpad. Secara berkala, Binance membakar (burn) sebagian supply BNB untuk menjaga kelangkaannya.
  • Uniswap (UNI) - Token dari decentralized exchange (DEX) Uniswap. Pemegangnya bisa ikut voting tentang arah pengembangan platform.
  • Chainlink (LINK) - Token yang digunakan untuk membayar layanan oracle data di jaringan Chainlink.

Utility token bisa sangat menguntungkan jika platform di baliknya terus berkembang. Tapi nilainya juga bisa turun drastis kalau platformnya kehilangan pengguna.

5. Meme Coin

Meme coin adalah kripto yang lahir dari budaya internet dan media sosial. Awalnya dibuat sebagai lelucon, tapi beberapa meme coin sekarang punya komunitas besar dan kapitalisasi pasar miliaran dolar.

Contoh utama:

  • Dogecoin (DOGE) - Dibuat pada 2013 sebagai parodi Bitcoin, menampilkan anjing Shiba Inu sebagai maskot. Menjadi populer setelah didukung oleh Elon Musk.
  • Shiba Inu (SHIB) - Token ERC-20 yang berjalan di Ethereum. Dikenal sebagai "Dogecoin killer" dan sekarang punya ekosistemnya sendiri termasuk DEX (ShibaSwap).

Meme coin terkenal dengan volatilitas ekstrem. Harganya bisa melonjak ratusan persen dalam hitungan jam, tapi juga bisa jatuh secepat itu. Investasi di meme coin sangat spekulatif dan sebaiknya hanya menggunakan uang yang siap Anda kehilangan.

6. Governance Token

Governance token memberikan hak suara kepada pemegangnya untuk ikut menentukan arah pengembangan sebuah protokol DeFi. Semakin banyak token yang Anda miliki, semakin besar pengaruh suara Anda.

Contoh utama:

  • Aave (AAVE) - Token governance dari protokol lending Aave. Pemegangnya bisa voting soal suku bunga, penambahan aset baru, dan perubahan protokol.
  • Maker (MKR) - Token governance dari MakerDAO, protokol di balik stablecoin DAI.
  • Compound (COMP) - Token governance dari platform lending Compound.

Governance token menarik bagi investor yang ingin berpartisipasi aktif dalam ekosistem DeFi. Nilainya biasanya terkait dengan TVL (Total Value Locked) dari protokol yang bersangkutan.

Ringkasan Jenis Mata Uang Kripto

Berikut perbandingan singkat keenam kategori utama crypto:

  • Payment Coin - Fungsi: alat pembayaran. Contoh: Bitcoin, Litecoin. Risiko: sedang.
  • Platform Coin - Fungsi: menjalankan smart contract/dApps. Contoh: Ethereum, Solana. Risiko: sedang.
  • Stablecoin - Fungsi: menyimpan nilai stabil. Contoh: USDT, USDC. Risiko: rendah.
  • Utility Token - Fungsi: akses fitur platform. Contoh: BNB, LINK. Risiko: sedang-tinggi.
  • Meme Coin - Fungsi: spekulasi/komunitas. Contoh: DOGE, SHIB. Risiko: sangat tinggi.
  • Governance Token - Fungsi: hak suara di protokol DeFi. Contoh: AAVE, MKR. Risiko: sedang-tinggi.

Bagaimana Memilih Jenis Kripto untuk Investasi?

Tidak ada jawaban universal soal mata uang kripto yang bagus untuk investasi. Semua tergantung profil risiko dan tujuan Anda.

Untuk pemula: Mulai dari payment coin (Bitcoin) atau platform coin (Ethereum) yang sudah mapan. Keduanya punya likuiditas tinggi dan track record paling panjang di pasar.

Untuk diversifikasi: Tambahkan stablecoin sebagai "safe haven" saat pasar bergejolak. Simpan sebagian portofolio dalam USDT atau USDC untuk bisa beli saat harga turun.

Untuk pengguna aktif DeFi: Utility token dan governance token bisa memberikan keuntungan tambahan dari staking, lending, atau yield farming.

Yang harus dihindari pemula: Meme coin dan token dari proyek yang tidak jelas. Jangan tergiur oleh janji keuntungan cepat tanpa riset yang memadai.

Di Indonesia, pastikan Anda hanya menggunakan exchange kripto yang sudah terdaftar dan diawasi OJK. Periksa daftar resmi di situs OJK sebelum mendaftar.

Regulasi Kripto di Indonesia 2026

Sejak 10 Januari 2025, pengawasan kripto di Indonesia resmi berpindah dari Bappebti (Kementerian Perdagangan) ke OJK berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

Beberapa poin penting regulasi saat ini:

  • Kripto diakui sebagai aset keuangan digital yang bisa diperdagangkan
  • Kripto belum bisa digunakan sebagai alat pembayaran
  • Semua exchange harus mendapat izin dari OJK (bukan lagi Bappebti)
  • OJK sudah menerbitkan whitelist exchange yang berizin dan terdaftar
  • Investor wajib menggunakan platform yang masuk dalam whitelist OJK

Perubahan ini memberikan perlindungan lebih baik bagi investor karena OJK punya pengalaman mengawasi sektor keuangan secara menyeluruh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa saja jenis mata uang kripto yang paling populer?

Jenis mata uang kripto yang paling populer meliputi Bitcoin (BTC) sebagai payment coin, Ethereum (ETH) sebagai platform coin, Tether (USDT) sebagai stablecoin, dan Binance Coin (BNB) sebagai utility token. Masing-masing memiliki fungsi dan karakteristik berbeda.

Apa perbedaan koin dan token dalam kripto?

Koin (coin) memiliki blockchain sendiri, seperti Bitcoin dan Ethereum. Token dibangun di atas blockchain milik koin lain, misalnya Uniswap (UNI) dan Shiba Inu (SHIB) yang berjalan di blockchain Ethereum. Koin berfungsi utama sebagai alat transaksi, sedangkan token bisa memiliki berbagai fungsi sesuai proyeknya.

Apakah kripto legal di Indonesia?

Ya, kripto legal di Indonesia sebagai aset investasi yang bisa diperdagangkan. Sejak Januari 2025, pengawasan kripto berada di bawah OJK. Namun, kripto belum diizinkan sebagai alat pembayaran. Pastikan Anda menggunakan exchange yang sudah masuk whitelist OJK.

Jenis kripto apa yang cocok untuk pemula?

Untuk pemula, disarankan mulai dari Bitcoin (BTC) atau Ethereum (ETH) karena keduanya punya likuiditas tinggi dan track record paling panjang. Hindari meme coin dan token proyek baru yang belum terbukti. Tambahkan stablecoin seperti USDT untuk menjaga stabilitas portofolio.

Apa itu stablecoin dan mengapa penting?

Stablecoin adalah jenis crypto yang nilainya dipatok terhadap aset stabil, biasanya dolar AS. Contohnya USDT dan USDC. Stablecoin penting karena memberikan stabilitas nilai di tengah pasar kripto yang volatil, sehingga cocok untuk menyimpan profit atau sebagai jembatan antar transaksi.

Komentar

Hanya pengguna terdaftar yang dapat meninggalkan komentar.

Apakah Anda Stres Soal Uang?

Yuk, berlangganan Financer Stacks panduan keuangan mingguan yang membantu Anda menguasai dasar-dasar keuangan, meningkatkan pendapatan tambahan, dan menciptakan kehidupan di mana uang bekerja untuk Anda. Gratis!

Dengan mengirimkan formulir ini, Anda setuju untuk menerima email dari Financer dan menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat Ketentuan.