Apakah saham haram dalam Islam?

4 menit membaca
Ahli

Apakah saham haram? Jawaban singkatnya, saham tidak otomatis haram. Dalam Islam, saham bisa halal jika perusahaan yang Anda beli bergerak di bidang yang halal, rasio keuangannya memenuhi kriteria syariah, dan transaksinya dilakukan dengan cara yang tidak mengandung riba, gharar, maysir, manipulasi, atau penipuan.

Jadi, masalahnya bukan pada kata "saham" itu sendiri. Masalahnya ada pada emiten yang dipilih dan cara Anda bertransaksi. Membeli saham perusahaan yang masuk Daftar Efek Syariah (DES) OJK tentu berbeda dengan membeli saham bank konvensional, perusahaan alkohol, perjudian, atau perusahaan dengan pendapatan non-halal yang besar.

Jika Anda baru mulai belajar saham, pahami dulu dasar kepemilikannya lewat panduan broker saham dan cara memilih perantara yang resmi. Setelah itu, barulah cek apakah saham yang ingin dibeli masuk kategori syariah.

Jawaban singkat

Saham halal jika objek usaha, rasio keuangan, dan mekanisme transaksinya sesuai prinsip syariah. Saham menjadi haram jika emiten menjalankan bisnis haram, transaksi dilakukan dengan margin berbunga, short selling, manipulasi harga, atau murni spekulasi seperti judi.

Kenapa saham bisa halal dalam Islam?

OJK menjelaskan bahwa secara konsep, saham adalah bukti penyertaan modal kepada perusahaan. Pemegang saham berhak atas bagian hasil usaha perusahaan, misalnya melalui dividen. Dalam prinsip syariah, konsep penyertaan modal seperti ini dekat dengan musyarakah atau syirkah, yaitu kerja sama kepemilikan dan pembagian hasil usaha.

Itulah alasan saham tidak langsung disamakan dengan judi. Anda membeli bagian kepemilikan, bukan sekadar menebak angka. Perusahaan punya aset, kegiatan usaha, laporan keuangan, manajemen, dan risiko bisnis yang bisa dianalisis.

Namun, status halal tersebut bersyarat. Jika bisnis perusahaan mengandung riba, judi, barang haram, suap, manipulasi, atau pendapatan non-halal yang melewati batas, sahamnya tidak layak disebut saham syariah. Begitu juga jika cara transaksinya melanggar prinsip syariah.

Kapan saham menjadi haram?

Saham bisa menjadi haram jika salah satu dari tiga hal ini bermasalah.

Pertama, bisnis emitennya haram. Contohnya perjudian, bank berbasis bunga, pembiayaan berbasis bunga, asuransi konvensional, barang atau jasa yang haram, atau kegiatan yang merusak moral dan bersifat mudarat.

Kedua, rasio keuangannya tidak memenuhi kriteria syariah. Perusahaan yang bisnis utamanya terlihat halal tetap bisa gagal masuk DES jika utang berbasis bunga atau pendapatan tidak halalnya terlalu besar.

Ketiga, cara transaksinya tidak sesuai syariah. Contohnya membeli dengan fasilitas margin berbunga, melakukan short selling, memanipulasi harga, menyebarkan informasi palsu, atau transaksi tanpa analisis yang hanya mengejar sensasi cepat untung. Untuk pembahasan khusus soal jual beli jangka pendek, lihat panduan hukum trading saham dalam Islam.

Pendapat MUI dan DSN-MUI tentang saham

Di Indonesia, rujukan utama pasar modal syariah berasal dari DSN-MUI dan OJK. Fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 mengatur penerapan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar reguler bursa efek. Intinya, transaksi saham syariah boleh dilakukan selama objeknya sesuai syariah dan mekanisme perdagangannya tidak melanggar ketentuan syariah.

Fatwa ini penting karena banyak orang bertanya apakah membeli saham sama dengan berjudi. Dalam praktik yang benar, transaksi saham menggunakan mekanisme jual beli. Harga terjadi di pasar, tetapi pembeli tetap membeli efek yang ada, dari emiten yang bisa dinilai, melalui sistem bursa yang diawasi.

Yang dilarang adalah praktik yang merusak prinsip tersebut, seperti menjual saham yang belum dimiliki, transaksi margin berbasis bunga, penawaran atau permintaan palsu, insider trading, dan manipulasi pasar. Jadi, pertanyaannya bukan hanya "saham halal atau haram", tetapi juga "saham apa yang dibeli dan bagaimana cara membelinya".

Kriteria saham syariah menurut OJK

Saham syariah adalah saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Di Indonesia, daftar resminya diterbitkan oleh OJK melalui Daftar Efek Syariah atau DES.

Kriteria umumnya mencakup dua lapis pemeriksaan. Lapisan pertama adalah kegiatan usaha. Emiten tidak boleh menjalankan kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah, seperti perjudian, perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang atau jasa, bank berbasis bunga, pembiayaan berbasis bunga, asuransi konvensional, barang haram, serta transaksi yang mengandung suap.

Lapisan kedua adalah rasio keuangan. Aturan lama yang masih sering dikutip memakai batas utang berbasis bunga terhadap total aset tidak lebih dari 45% dan pendapatan bunga serta pendapatan tidak halal lainnya tidak lebih dari 10%. Namun POJK 8 Tahun 2025 memperbarui arah kriteria ini. OJK menjelaskan adanya penurunan batas utang berbasis bunga dari 45% menuju 33% secara bertahap dalam 10 tahun, serta penurunan batas pendapatan tidak halal dari 10% menjadi 5% setelah masa transisi.

Karena aturan bisa berubah, cara paling aman bukan menghitung sendiri dari nol, tetapi mengecek DES terbaru dari OJK sebelum membeli saham.

AspekSaham syariahSaham yang perlu dihindari
Kegiatan usahaBisnis halal dan tidak bertentangan dengan prinsip syariahJudi, riba, barang haram, suap, atau bisnis mudarat
Rasio keuanganMemenuhi kriteria DES OJKUtang berbasis bunga atau pendapatan non-halal melewati batas
Cara transaksiMembeli saham yang dimiliki dan tercatat jelasShort selling, margin berbunga, manipulasi, atau transaksi palsu
Tujuan investorInvestasi dengan analisis dan manajemen risikoSpekulasi membabi buta seperti berjudi

ISSI, JII, JII70, dan DES OJK

Untuk investor ritel, istilah yang paling sering muncul adalah DES, ISSI, JII, dan JII70. Keempatnya berkaitan, tetapi fungsinya berbeda.

DES atau Daftar Efek Syariah adalah daftar resmi efek syariah yang diterbitkan OJK. Ini rujukan utama untuk mengecek apakah suatu saham memenuhi kriteria syariah. OJK menerbitkan DES secara periodik pada akhir Mei dan November, efektif pada 1 Juni dan 1 Desember. Dalam pengumuman KEP-21/D.04/2026, OJK menyebut DES Periode I 2026 memuat 622 saham emiten dan perusahaan publik, serta efek syariah lainnya.

ISSI atau Indeks Saham Syariah Indonesia mencerminkan seluruh saham syariah yang tercatat di BEI dan masuk DES. Jika Anda ingin melihat gambaran luas pasar saham syariah Indonesia, ISSI biasanya menjadi titik awal.

JII atau Jakarta Islamic Index berisi 30 saham syariah yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, termasuk likuiditas dan kapitalisasi pasar. JII70 memperluas cakupan menjadi 70 saham syariah. Ada juga IDX-MES BUMN 17 dan IDX Sharia Growth yang digunakan untuk kebutuhan indeks lebih spesifik.

Jangan hanya membeli saham karena masuk indeks. Indeks membantu menyaring, tetapi Anda tetap perlu memahami harga, kinerja bisnis, risiko sektor, dan tujuan investasi pribadi.

Cara cek apakah saham halal sebelum membeli

Gunakan langkah sederhana ini sebelum membeli saham, terutama jika Anda ingin investasi sesuai prinsip syariah.

Cek kode saham di DES OJK

Buka daftar DES terbaru dari OJK atau fitur syariah di aplikasi sekuritas. Jika kode saham tidak muncul, jangan langsung menganggapnya halal hanya karena bisnisnya terlihat familiar.

Pahami bisnis emitennya

Baca kegiatan usaha perusahaan. Hindari emiten yang sumber pendapatannya berasal dari sektor yang jelas dilarang, seperti perjudian, riba, barang haram, atau bisnis yang merusak moral.

Lihat laporan keuangan dan risikonya

DES sudah membantu menyaring rasio syariah, tetapi Anda tetap perlu melihat utang, laba, arus kas, dan prospek usaha. Saham halal belum tentu cocok dibeli pada harga berapa pun.

Gunakan sekuritas resmi

Pilih perusahaan efek yang legal dan diawasi. Jika Anda masih belajar, mulai dari panduan apa itu broker saham agar tidak salah memilih aplikasi atau perantara.

Hindari dana panas dan utang konsumtif

Jangan membeli saham dari uang kebutuhan pokok, dana darurat, pinjaman online, atau margin berbunga. Risiko harga turun tetap ada meskipun sahamnya syariah.

Aplikasi saham syariah dan SOTS

Jika Anda ingin transaksi lebih praktis, cari aplikasi atau sekuritas yang menyediakan filter saham syariah, rekening efek syariah, atau SOTS. SOTS adalah Sistem Online Trading Syariah, yaitu sistem transaksi saham secara online yang dirancang agar investor hanya bisa bertransaksi pada saham yang masuk DES dan sesuai mekanisme syariah.

Beberapa aplikasi investasi saham di Indonesia menyediakan tampilan atau mode syariah. Namun, fitur aplikasi tidak menggantikan tanggung jawab Anda untuk mengecek daftar terbaru. Saham bisa keluar dari DES jika kemudian tidak lagi memenuhi kriteria.

Untuk pemula, pilih platform investasi yang mudah dipakai, legal, transparan biayanya, dan membantu Anda membedakan saham syariah dari saham biasa. Jangan hanya melihat promosi biaya murah. Perhatikan juga edukasi, keamanan akun, layanan pelanggan, dan kemudahan menarik dana.

Akun Islami tidak selalu sama dengan saham syariah

Istilah akun Islami sering dipakai di produk trading global, terutama forex atau CFD. Itu tidak otomatis berarti instrumen yang Anda beli adalah saham syariah di DES OJK. Untuk saham Indonesia, rujukan utamanya tetap DES OJK, mekanisme transaksi syariah, dan legalitas perusahaan efek.

Saham syariah vs saham konvensional

Perbedaan saham syariah dan konvensional bukan pada bentuk sahamnya. Keduanya sama-sama mewakili kepemilikan atas perusahaan. Perbedaannya ada pada penyaringan emiten dan aturan transaksinya.

Pada saham konvensional, investor bisa membeli saham dari sektor apa pun selama tersedia di bursa dan sesuai aturan pasar modal. Pada saham syariah, emiten harus lolos penyaringan kegiatan usaha dan rasio keuangan. Mekanisme transaksinya juga harus menghindari praktik yang dilarang.

Bagi investor Muslim, penyaringan ini membantu memberi batas yang lebih jelas. Anda tidak perlu menebak sendiri semua emiten dari awal, tetapi tetap perlu memilih saham yang sesuai profil risiko. Saham syariah tetap bisa turun 10%, 20%, atau lebih jika kinerja bisnis memburuk atau pasar sedang tertekan.

Jika tujuan Anda investasi jangka panjang, fokuslah pada bisnis yang Anda pahami, valuasi yang masuk akal, dan alokasi dana yang tidak mengganggu kebutuhan harian. Panduan cara investasi saham bisa membantu Anda membangun langkah awal yang lebih terstruktur.

Bagaimana dengan dividen dan capital gain?

Dividen dari saham syariah pada dasarnya mengikuti status saham dan kegiatan usahanya. Jika perusahaan masuk DES dan membagikan laba dari usaha yang sesuai syariah, dividen tersebut umumnya dianggap sebagai hasil investasi yang diperbolehkan.

Capital gain, yaitu keuntungan dari selisih harga beli dan jual, juga tidak otomatis haram. Keuntungan menjadi bermasalah jika diperoleh lewat cara yang dilarang, misalnya manipulasi harga, transaksi palsu, insider trading, atau short selling.

Namun, jangan menyamakan halal dengan pasti untung. Saham syariah tetap aset berisiko. Harga bisa naik turun setiap hari. Jika Anda membeli hanya karena ikut forum, grup sinyal, atau takut ketinggalan, keputusan tersebut lebih dekat dengan spekulasi daripada investasi yang sehat.

Cara menjaga investasi saham tetap sesuai syariah

Ada beberapa kebiasaan yang bisa membantu Anda menjaga investasi tetap sesuai syariah.

  • Cek DES secara berkala, terutama setelah periode efektif 1 Juni dan 1 Desember.
  • Jangan memakai fasilitas margin berbunga untuk membeli saham.
  • Hindari short selling dan produk turunan yang tidak Anda pahami.
  • Simpan catatan alasan membeli saham, bukan hanya target harga.
  • Batasi porsi saham sesuai kemampuan menanggung risiko.
  • Waspadai ajakan cepat kaya, grup pom-pom, dan skema investasi bodong.

Prinsip syariah tidak hanya bicara label halal. Ada unsur kehati-hatian, keadilan, transparansi, dan menghindari kerugian yang tidak perlu. Jika sebuah peluang terdengar terlalu mudah, terlalu pasti, atau menekan Anda untuk segera transfer uang, berhenti dulu dan cek legalitasnya.

Kesimpulan: saham halal atau haram?

Saham tidak otomatis haram. Dalam hukum saham dalam Islam, saham bisa halal jika memenuhi syarat: emitennya menjalankan usaha yang halal, rasio keuangannya sesuai kriteria syariah, sahamnya masuk DES OJK, dan transaksinya dilakukan tanpa riba, gharar, maysir, manipulasi, atau penipuan.

Sebaliknya, saham menjadi haram jika perusahaan bergerak di sektor yang dilarang, rasio non-halalnya melewati batas, atau Anda menggunakan cara transaksi yang tidak sesuai syariah.

Untuk pembaca yang masih ragu apakah investasi saham haram, gunakan aturan praktis ini: jangan beli saham yang tidak Anda pahami, jangan abaikan DES OJK, jangan memakai utang berbunga, dan jangan mengejar keuntungan cepat tanpa analisis. Saham syariah adalah alat investasi, bukan jaminan bebas rugi.

FAQ tentang apakah saham haram

Apakah saham haram menurut Islam?

Saham tidak otomatis haram. Saham bisa halal jika emitennya bergerak di bidang halal, masuk kriteria syariah, dan transaksinya dilakukan tanpa riba, gharar, maysir, manipulasi, atau penipuan.

Apakah investasi saham haram?

Investasi saham tidak haram jika saham yang dibeli adalah saham syariah dan cara membelinya sesuai prinsip syariah. Yang perlu dihindari adalah emiten haram, margin berbunga, short selling, dan spekulasi tanpa dasar.

Saham syariah adalah apa?

Saham syariah adalah saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal. Di Indonesia, rujukan resminya adalah Daftar Efek Syariah atau DES yang diterbitkan OJK.

Bagaimana cara tahu saham halal atau haram?

Cek apakah kode saham masuk DES OJK terbaru, pahami kegiatan usaha emitennya, gunakan sekuritas resmi, dan hindari cara transaksi yang dilarang seperti margin berbunga atau short selling.

Apakah saham bank konvensional haram?

Saham bank berbasis bunga umumnya tidak masuk kriteria saham syariah karena kegiatan usahanya berkaitan dengan riba. Jika ingin aman, cek DES OJK dan pilih saham yang memang masuk daftar syariah.

Apakah dividen saham syariah halal?

Dividen dari saham syariah umumnya diperbolehkan jika berasal dari emiten yang memenuhi kriteria syariah. Tetap perhatikan status saham di DES dan kebijakan pembersihan pendapatan non-halal jika ada.

Apakah saham syariah pasti aman dan menguntungkan?

Tidak. Saham syariah berarti lolos kriteria syariah, bukan berarti bebas risiko. Harga tetap bisa turun, bisnis bisa memburuk, dan investor tetap perlu analisis serta manajemen risiko.

Financer Talks

Bagikan keahlian Anda dan bantu orang lain membuat keputusan keuangan yang lebih baik.

Lihat semua
Min 10 karakter

Jadilah yang pertama membagikan pendapat Anda.

Bandingkan broker saham

8 opsi

Pialang teregulasi dan tepercaya

Bandingkan broker

Bandingkan broker saham

8 opsi

Pialang teregulasi dan tepercaya

Bandingkan broker
Butuh bantuan?